Cerita Mistis Di Masjid Jamik Sumenep

Jika Anda memperhatikan dengan seksama, ukiran di pintu depan masjid sangat kental dengan budaya Cina, menggunakan warna-warna cerah. Ukiran dengan nada yang mirip dapat ditemukan di banyak daerah di Palembang, di mana seni arsitektur juga sangat dipengaruhi oleh budaya Cina.

Cerita Mistis Di Masjid Jamik Sumenep

Kabupaten Sumenep terletak di bagian timur Pulau Madura, di provinsi Jawa Timur. Itu menjadi kota salah satu kota tua yang ada sejak abad ke-13.

Toponimi di wilayah Sumenep juga beragam, mulai dari kisah Songenneb yang diyakini disebutkan dalam buku Pararaton, hingga pembahasan toponimisme Sumenep tentang Purwaredja, Soemekar, hingga Sumenep karya J. Hememaneman.

Ini tidak bisa dirasakan oleh semua orang yang berdoa di Masjid Jamik Sumenep. Masjid Jamik Sumenep memiliki pintu masuk utama yang menjadi ikon.

Baca Juga: Arsitektur Megah Kubah Masjid Di Jawa Barat

Di sebelah pintu depan masjid Sumenep adalah jam kursi besar dengan merek Jonghans, di atas pintu ada tulisan Arab dan Jawa.

Atap piramida ditumpuk atau bertingkat, penataan atap semacam ini tidak hanya merupakan fitur bangunan di Jawa yang menggunakan atap joglo, tetapi juga bentuk atap yang banyak digunakan pada bangunan pagoda yang biasanya menggunakan atap bertumpuk.

Di ujung atas atap bangunan adalah mastaka tiga lingkaran. Arsitektur di bangunan utama masjid dipenuhi dengan sekitar 16 tiang kayu, dengan tanaman merambat berukir yang terletak di bagian bawah tiang.

Di sebelah pintu depan masjid Sumenep adalah jam besar dengan tanda Jonghans, di atas pintu ada tulisan Arab dan Jawa. Bangunan itu konon merupakan persinggahan sementara bagi keluarga kerajaan untuk beristirahat dan beribadah sebelum melanjutkan perjalanan ke Pemakaman Asta Tinggi. SuaraJatim.id – Dari luar, bangunan masjid yang dulunya disebut Masjid Jami menonjol karena lebih tinggi dari rumah-rumah penduduk sekitarnya.

Bentuk dan warna gerbang menunjukkan pengaruh gaya arsitektur Cina, India, dan lokal. Kolaborasi antara keindahan bangunan masjid, makam Syaikhona Muhammad Kholil, dan kegiatan yang tak pernah haji membuat suasana masjid ini begitu semarak dan sangat layak menjadi salah satu tujuan wisata religi di Jawa Timur.

Termasuk doa untuk wanita yang duduk di sebelah kiri. Di dalamnya ada mihrab dan mimbar ganda dengan detail unik. Teksturnya berupa atap ubin yang kental dengan budaya Cina.

Tidak hanya di Jaddih sebenarnya, sebagian besar desa di Bangkalan, kecuali desa-desa pesisir, memiliki langgar sendiri meskipun masjid hanya beberapa langkah jauhnya atau bahkan di sebelah rumah. Desa tempat saya tinggal sekarang terletak di distrik Socah.

Sekitar 30 menit dari pusat kota Bangkalan, Madura di Jawa Timur adalah sebuah desa yang identik dengan kejahatan. Dengan bagian bawah bangunan yang tampak kosong tanpa dinding pemisah dan menembus ke ruang bagian dalam masjid. Ini menghasilkan penempatan balkon yang mengelilingi masjid utama, yang dibatasi oleh dinding dan pintu.

Kemudian mihrab meraih, dengan platform di sebelah kamarnya. Lampu gantung besar nan klasik juga diletakkan di tengah ruang sholat sebagai lampu utama. Jika Anda melihat ukiran di pintu depan masjid, itu dipengaruhi oleh budaya Cina, menggunakan warna-warna cerah.

Tetapi tidak ada tanda dan informasi yang menunjukkan bahwa tempat itu bersejarah. Masjid Jami Jember – Jember adalah kota dengan perpaduan berbagai budaya.

Bahkan, campuran terasa kental, dari bahasa dengan aksen dalam bahasa Madura, Jawa, Bali dan dari berbagai tempat di kepulauan Indonesia. Campuran ini karena itu memberi Jember model budaya sendiri.

Memang, arsitektur salah satu masjid tertua di negara ini menggabungkan budaya yang berbeda; Cina, Eropa, Jawa, dan Madura. Meskipun ada sisi unik desa yang menjadi terkenal di pelosok nusantara setelah membuka tur Gua Pote pada 2015.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>